Pages

Arsip Blog

Ternyata penonton dahsyat, dkk tuh dibayar.

http://1.bp.blogspot.com/_bssX7dhURbw/SsAX3R6psHI/AAAAAAAABt0/UuxbJOsblhI/s320/penonton+dahsyat+rcti.JPGKONON, penonton adalah jiwa yang menghidupkan sebuah acara. Makin heboh penonton, makin meriah dan sukses acara tersebut. Saking tingginya kebutuhan itu, hadirlah profesi, “koordinator penonton” dan “penonton bayaran”. Sudah tampil di teve, dapat uang pula. Menggiurkan, ya?

Hari itu Harsono sudah tiba di lokasi studio RCTI sejak subuh. Selama bulan puasa, studio tersebut jadi rumah kedua bagi Harsono. Maklum, ia harus selalu standby mengawasi “anak buah”-nya yang menjadi penonton bayaran untuk program Dahsyat dan Dahsyatnya Sahur. Profesi Harsono mungkin masih terdengar aneh di telinga sebagian orang. Namun pria ini sudah menjalani pekerjaan sebagai koordinator pengumpul penonton selama 5 tahun.

Ya, tak banyak yang tahu, tak semua penonton program televisi yang hadir di lokasi syuting atau studio berasal dari masyarakat biasa. Sebagian besar dari mereka justru orang-orang bayaran. Mereka dipekerjakan untuk memeriahkan acara. Pasalnya, unsur look atau tampilan gambar di layar memang menjadi kebutuhan utama. Semakin meriah dan ramai, maka program tersebut akan lebih menarik minat pemirsa di rumah.

Untuk mengumpulkan puluhan hingga ratusan penonton tersebut, pihak stasiun teve biasa menyewa jasa pihak ketiga atau agency. Namun jangan dikira gampang untuk menjadi penonton bayaran. “Penampilan yang utama look-nya harus bagus, enggak jelek-jelek amatlah, karena kan, muncul di teve. Perempuan dan laki-laki harus punya make up sendiri. Bisa dandan, dengan kostum yang bagus. Bisa bangun suasana dengan kru, saatnya sedih bisa nangis, saat ramai bisa loncat-loncatan. Yang penting selalu ikutin aturan. Karena mereka benar-benar kerja, enggak hanya nonton,” tutur Harsono.

Kerja Harsono sendiri tidak terlalu sulit. Ia hanya perlu menyewa jasa koordinator lapangan (korlap) di tiap daerah di wilayah Jabodetabek. Korlap tersebut yang turun langsung mencari penonton bayaran. “Biasanya korlap itu ibu-ibu. Dari awal saya sudah menentukan untuk mencari yang asyik. Saya sendiri membawahi 8 korlap. Biasanya kami pilih penonton yang lokasinya dekat dengan studio atau lokasi syuting program, jadi biaya enggak terlalu tinggi.”

Harsono bahkan memiliki 25 penonton bayaran tetap. Mereka selalu dipakai karena kemampuannya dalam menghidupkan suasana. Selebihnya, untuk mengisi permintaan, Harsono mengambil penonton bayaran yang dikontrak lepas per hari.

Bayaran yang diterima para penonton ini tergantung pihak stasiun teve. Karena, beda program, beda pula bayarannya. Yang jelas, dari masing-masing pekerjannya, Harsono memotong 20% pendapatan mereka untuk kostum, aksesori, pernak-pernik, dan untuk dirinya sendiri. “Satu program misalnya ngasih Rp 25 ribu/orang, saya bayarkan Rp 22 ribu atau Rp 20 ribu, sesuai kategori. Orang baru enggak sama dengan yang lama. Kalau dia semangat, dan serius, baru kami naikkan honornya. Itu buat 1 acara. Minimal mereka dapat 3 acara per hari. Jadi, lumayanlah,” ungkap Harsono.

Harsono selalu menjaga kualitas penonton rekrutannya. Hasilnya, jasa Harsono dipercaya oleh banyak rumah produksi dan stasiun TV. “Sebelum masuk studio, ada seleksi penonton. Ratusan orang kami bawa dan beritahu, kalau kami maunya yang tampilannya bagus, suara keras, ramai, ceria dan bisa koreo (menari). Sekarang tercipta deh, penonton kami yang sudah terkenal dimana-mana,” tukas Harsono.

Saat ini Harsono termasuk salah satu agency penyedia jasa penonton bayaran yang sukses. Di bulan puasa kemarin saja, Harsono dipercaya menyuplai penonton untuk 11 program teve. Hasilnya, pendapatan yang tidak sedikit pun diraup Harsono. “Bulan puasa ini saja bisa lebih dari Rp 50 juta. Ya alhamdulilah, rezeki bulan suci,” kata pria yang sering disapa dengan panggilan “Ayah” oleh penonton-penonton bayarannya itu. 

Ternyata penonton di dahsyat, dkk yang sejenis itu dibayar ya???
Makanya kok orangnya itu-itu aja....

Quote dari kaskus:
INI cerita Ely Suhari. Awalnya, Ely justru menjadi salah satu penonton bayaran. Karena penampilannya yang unik, Ely kemudian ditawari menjadi pemain figuran di program Ngelenong Yuuk di Trans TV. Belakangan, ibu dua anak ini malah tergoda menjajaki profesi baru sebagai penyedia jasa penonton bayaran.

“Mulainya tahun 2006. Awalnya ngeladenin permintaan anak-anak kampus. Satu orang mau nonton, besoknya bawa teman 5 orang. Yang 5 orang itu bawa teman lagi. Begitu seterusnya sampai akhirnya aku punya korlap juga. Mereka yang bawa 50 orang, terus nambah lagi jadi 100, sampai paling banyak 500 orang,” ujar Ely.

Ely sendiri tidak memberlakukan status permanen pada penontonnya. Semua dikontrak lepas per program. Hanya korlap yang dipekerjakan secara tetap oleh Ely. Penonton yang dikoordinir pun tidak dikategorikan sesuai wilayah, tapi dibagi per korlap. “Misalnya butuhnya 200 orang, aku bagi per korlap. Bukan per wilayah. Pokoknya dimana saja. Kalau memang syuting di Bogor terus yang datang dari Bekasi, bisa saja. Karena kami menyediakan bis sewaan,” kata Ely.

Untuk penontonnya, Ely memberlakukan beberapa kelas yang berbeda. Biasanya dibedakan sesuai penampilan. Dari yang berpenampilan menarik secara fisik, hingga yang biasa-biasa saja. Tak sedikit pula penonton langganan Ely yang melebarkan kariernya di dunia hiburan. Ada yang ditawarkan untuk menjadi figuran, model video klip hingga Sales Promotion Girl (SPG).

Meski dibanjiri job, Ely membatasi hanya menyuplai maksimal dua program setiap harinya. “Tapi, karena sistem kontrak lepas, satu orang penonton tidak hanya kerja untuk saya saja. Jadi kadang mereka bisa tampil di program yang berbeda setiap harinya. Satu orang bisa jadi penonton di 4 acara per hari. Secara pendapatan ya, lumayan sekali.”

Dilihat dari honor, penonton Ely cukup terfasilitasi dengan baik. Untuk potongannya, Ely hanya mengambil 20-25%. Pendapatan masing-masing tergantung programnya, karena setiap stasiun teve memberikan honor berbeda. Biasanya, cerita Ely, satu penonton bisa meraup Rp 15 ribu sampai Rp 40 ribu per program. Tak hanya penontonnya, Ely pun meraup untung cukup besar. Konon, perempuan berpenampilan unik ini sudah bisa membeli perhiasan dan mobil dari hasil kerjanya itu.

Semua tentu tak lepas dari kedisiplinan Ely. Ia dikenal cukup ketat mengawasi penontonnya. Jika ada yang berulah di lokasi, Ely tak segan menegur. Perempuan ini bahkan selalu menjalin hubungan baik dengan para penjaga keamanan di lokasi, demi bisa mengawasi pekerjanya.

Dalam sehari, kini Ely mampu menyediakan 150-500 penonton, mulai dari anak kecil, hingga ibu-ibu, tergantung permintaan. Uniknya, meski tidak terikat kotrak tertulis, Ely tetap berusaha menyediakan fasilitas kesehatan bagi pekerjanya. “Kalau mereka pingsan atau sakit, aku bawa ke RS, selama masih dalam tanggung jawab aku, aku biayain semua. Selama ini udah 3 orang yang kayak begitu. Tapi saya sekarang lebih selektif milih penonton yang sehat,” kata Ely.

Lantas, apa sebenarnya yang membedakan penonton bayaran dengan penonton biasa? “Kalau fans atau umum kan, enggak ramai. Bisa saja dia memang mau nonton band atau penyanyi tertentu. Jadi waktu band kesukaannya tampil, dia ramai, tapi di luar itu, dia ogah. Terus, penonton umum kan, enggak bisa dipegang. Suka kabur kalau acara belum selesai. Padahal kadang taping bisa sampai dini hari.” (Bersambung....)

0 komentar:

Poskan Komentar

Share it

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...